
Bacaan: FILEMON 1: 1-25
Hari ini kita mengawali rangkaian acara “Bulan Musik”. Dalam pekan musik pertama ini, kita akan bersama-sama kembali belajar tentang esensi dan dimensi melayani. Bahwa panggilan melayani bukan hanya terbatas pada sebuah tugas di ruang lingkup gereja saja, tetapi juga mencakup mayarakat sekitar. Selaku gereja, kita juga dipanggil untuk melayani/memberdayakan/memulihkan kehidupan orang-orang di sekitar kita, agar asas kebergunaan hidup tak hilang, tetapi menguat kembali dan kehidupan menjadi berkat. Inilah intisari dari pesan atau nasihat rasul Paulus kepada Filemon.
Siapakah Filemon? Filemon berarti penuh kasih, adalah seorang warga kota Kolose. Filemon bertobat karena pelayanan Paulus (Flm.1:9). Ia seorang yang kaya dan terkemuka. Rumahnya digunakan sebagai tempat berbakti orang percaya di Kolose, dan kemungkinan dialah pemimpin gereja di rumahnya (Flm.1:2). Gereja dalam rumah pada zaman Perjanjian Baru memang merupakan hal yang sudah umum (bd. Rm.16:5, 1Kor.16:19, Kol.4:15). Baru pada abad ketiga disebut tentang gedung gereja yang terpisah dari rumah tinggal. Filemon memiliki banyak hamba (budak), salah satunya bernama Onesimus.
Siapakah Onesimus? Onesimus berarti berguna. Ia merupakan salah satu hamba (budak) Filemon, yang melarikan diri karena telah mencuri di rumah Filemon. Dengan perbuatannya ini, Onesimus telah kehilangan fungsi dan makna kebergunaan dirinya (Flm.1:11). Kisah Filemon dan Onesimus ini menjadi begitu dramatik, sebab entah bagaimana alurnya, yang pasti Onesimus pada suatu saat akhirnya tertangkap dan dipenjarakan bersama Paulus di Roma, dan Paulus membawa Onesimus kepada Tuhan (Flm.1:10). Betapa tidak dramatik, Filemon dan Onesimus sama-sama bertobat melalui pelayanan Paulus! Dan dengan pertobatan ini, hakikat diri Filemon (penuh kasih) dan Onesimus (berguna) dipulihkan.
Dalam konteks narasi kisah Filemon dan Onesimus ini, kita kembali belajar melihat panggilan melayani gereja dan masyarakat (orang-orang sekitar). Bagi Paulus, Onesimus adalah orang di sekitar Filemon. Sebab itu, Paulus bersurat kepada Filemon. Paulus memang telah mendengar tentang kasih Filemon kepada semua orang kudus dan tentang imannya kepada Tuhan Yesus yang memberinya kegembiraan besar dan kekuatan (Flm.1:5-7). Namun demikian, Paulus ingin agar Filemon lebih maju lagi dalam hal mempraktikan iman dengan mewujudkan pekerjaan yang baik untuk Kristus. Apa itu? Paulus berdoa dan berharap Filemon dalam kerelaannya (tidak dengan terpaksa) dapat memaafkan dan menerima kembali Onesimus di rumahnya, menerimanya untuk selama-lamanya, bukan lagi sebagai hamba, melainkan lebih dari hamba, yaitu sebagai saudara yang kekasih, baik secara manusia maupun di dalam Tuhan (Flm.1:16). Paulus ingin agar Filemon “tidak hanya” melayani anggota-anggota yang beribadah di rumahnya, tetapi juga menjangkau orang di sekitarnya, yaitu Filemon. Inilah esensi dan dimensi panggilan pelayanan kita.
Seorang Maestro musik asal Paraguay bernama Luis Szaran, dia adalah seorang pengaba (conductor) di berbagai orkestra dunia. Ia memiliki sebuah kerinduan besar untuk membangun sebuah sekolah musik bagi anak-anak yang tidak mampu. Kerinduan ini muncul ketika dia telah melihat kenyataan lapangan, di mana banyak anak-anak miskin di Paraguay yang tidak mendapatkan pendidikan musik, sementara dirinya dan anak-anak lainnya yang lebih mampu bisa mempelajari musik sejak kecil. Suatu hari, Luiz Szaran bersama dengan staff gurunya bernama Favio Chavez mengunjungi sebuah tempat bernama Cateura, tempat pembuangan sampah, salah satu tempat terkumuh di Paraguay. Termotivasilah mereka untuk mendirikan sekolah musik di Cateura. Di hari pertama, ketika mereka mengajak anak-anak untuk bermain musik, mereka mendapati jumlah anak lebih banyak dibandingkan jumlah alat musik yang mereka punyai. Saat itu tidak mudah bagi Luiz Szaran dan rekan-rekannya untuk menggalang dana guna gerakan sosial ini. Banyak orang yang menganggap gerakan sosial ini mempunyai kepentingan politik menjelang pemilu. Kondisi ini membuat sekolah musik di Cateura tidak mendapat dukungan finansial. Menariknya, hal tersebut tidak mengurangi semangat Favio Chavez dalam berkarya. Dia mengamati bahwa warga Cateura menggunakan barang-barang hasil daur ulang sampah sebagai alat sehari-hari. Ini memberi inspirasi Favio Chavez. Dengan kreatif, ia pun mendaur ulang alat musik seperti biola, cello, gitar, flute dari barang-barang bekas. Oleh karena itu, akhirnya banyak anak-anak yang dapat belajar musik dengan instrumennya sendiri. Secara kualitas, alat musik hasil daur ulang sampah ini tidak kalah bagusnya dengan instrumen aslinya. Menakjubkan, Favio Chavez dan Luiz Szaran pada akhirnya dapat membentuk grup orkestra bernama Orchestra of Recycled. Mereka pun mendunia karena keunikannya dalam memberdayakan anak-anak yang tidak mampu dan menggunakan instrumen dari barang bekas yang di daur ulang. Tercatat mereka tampil berkolaborasi bersama grup band dan artis dunia seperti bergabung dalam Band Megadeth dalam acara berjudul Symphony of Destruction tahun 2013, tampil bersama band Metallica di Bogota Italia Agustus 2013 silam. Tidak hanya itu saja, di dalam film dokumenternya, seorang anggota yang masih remaja mengaku bahwa musik membawa mereka dapat mencurahkan emosi yang selama ini mereka tidak bisa salurkan selama masa remaja. Dia mengaku bersyukur karena dia dan anggota lainnya "diselamatkan" dengan musik sehingga mereka tidak lari dalam pelarian yang lain seperti sex, narkoba, dll.nya.
Sekali lagi kisah nyata ini menegaskan betapa pentingnya pesan Firman Tuhan pada hari ini. Paulus memberdayakan Filemon, dan Filemon memberdayakan Onesimus. Kedua tokoh musik di atas membangun sebuah aksi yang dapat memberdayakan orang-orang di sekitarnya. Kita pun dipanggil untuk menyatakan kasih Kristus dengan memberdayakan/memulihkan gereja dan kehidupan orang-orang di sekitar. Amin.
*Pdt. Setyahadi